SALAM BAKU DAPA!

Opa, oma, ade, kaka deng basudara samua! Mari katong bakumpul dalam satu semangat ''satu gandong, satu jantong'' satu tana tumpa dara, Maluku manise! Beda agama, keyakinan, kampong atau apapun itu, akang bukan alasan voor katong bakalai atau bacere!

Our Profile

SEMARANG, JAWA TENGAH, Indonesia
Organisasi ini merupakan wadah berkumpulnya warga Maluku yang berdomisili di Jawa Tengah dari berbagai latarbelakang sosial, ekonomi, agama/keyakinan dan profesi, yang bersatupadu untuk membangun komunikasi dan silaturahmi yang intens dan kuat demi masa depan Jawa Tengah dan Maluku yang lebih baik. Keanggotaan bersifat terbuka, bagi siapapun mereka yang memiliki darah/keturunan Maluku, kendati lahir di manapun. Blog ini merupakan blog resmi yang dimiliki IKM Jateng yang merupakan organisasi kemasyarakatan nirlaba yang merupakan ajang silaturahmi, komunikasi dan kekerabatan diantara warga asal Maluku yang berada di seantero Jawa Tengah

November 16, 2008

musik ambon2

Anak Ambon Suka Muzzik Maluku

Pernah dengar lagu "Goro-gorone", "Hela Rotane", "Lembe-lembe", atau "Gepe Gepe"? Pernah terhibur oleh suara Bob Tutupoli, Pattie Bersaudara, Broery Marantika, Lex's Trio, Harvey Malaihollo, Ruth Sahanaya, atau Glen Fredly? Itulah deretan lagu dan seniman berdarah Maluku yang mewarnai Tanah Air dengan nyanyian.

Musik menjadi nyawa orang Maluku," kata Bob Tutupoli, penyanyi yang sekitar lima dekade berkiprah di dunia musik Indonesia.Alam Maluku yang berkelimpahan hasil bumi dipercaya sebagai lanskap kehidupan yang mengajarkan penghuninya untuk mensyukuri berkah dengan bernyanyi. Benny Likumahuwa, seniman jazz kawakan itu, menuturkan bagaimana para tetua dulu mengibaratkan Maluku sebagai taman Eden—semacam "tanah surga" yang digambarkan Koes Plus dalam lagu Kolam Susu.

"Satu pohon sagu tak habis dimakan satu keluarga dalam setahun. Padahal pohon sagu tumbuh terus. Ikan tinggal ambil di laut dan dalam lima menit kami sudah mendapat satu bakul. Orang tinggal memuji limpahan berkah dengan nyanyian. Jadi alam yang menyebabkan orang bernyanyi," tutur Benny.

Alam yang ramah dan indah menjadikan kehidupan mengalir santai dan menyenangkan. Orang mempunyai banyak waktu ! luang untuk berkumpul bersama, bercengkerama di pantai dengan bermain musik dan bernyanyi. Itulah mengapa kemudian banyak lagu tentang keindahan pantai, laut berikut ombaknya.Angin, laut, ombak, menurut Chris Pattikawa, merupakan unsur-unsur alam yang mengajarkan ilmu bernyanyi kepada orang-orang Maluku. Teluk Ambon, misalnya, mempunyai karakteristik ombak yang lembut sesuai struktur pantai yang landai. Efeknya, ombak memecah pelan-pelan.

"Akibatnya, orang-orang di teluk Ambon mengeluarkan suara yang lebih soft dan manis. Suara mereka keluar dari diafragma yang halus, bukan dari leher," jelas Chris yang melahirkan kelompok vokal itu.Orang-orang di luar Teluk Ambon dengan karakter ombak yang langsung memecah keras akan mempunyai gaya suara yang berbeda pula. Kultur kehidu! pan pantai dan laut mengajarkan orang Maluku akan ritme. Ilmu ritme itu secara natural terefleksikan dalam musik perkusi Maluku seperti tifa atau tutubuang.

"Orang mendayung sampan akan membentuk tempo. Begitu juga dengan tifa," jelas Chris.Begitulah bernyanyi, bermusik, dan aktivitas fisik kelautan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari orang Maluku. Dalam perjalanan waktu, tata hidup itu membentuk aktivitas berkesenian, yaitu bernyanyi serta aktivitas fisik berupa olahraga."Makanya orang Maluku itu kalau tidak jadi penyanyi ya jadi petinju he-he...," canda Bob Tutupoli.

Konon, menurut Bob, orang Maluku yang merantau ke luar daerah dan sukses menjadi penyanyi atau petinju akan disambut ramai di ! kampung halaman, lebih dari seorang presiden sekalipun.Kultur bernyanyi itu semakin tertata oleh tradisi bernyanyi dalam tata peribadahan. "Apa pun itu, setiap kali orang Maluku berkumpul pasti ada nyanyi-nyanyi. Kalau tidak, mereka pasti langsung pada pulang," kata Bob yang populer dengan lagu Tiada Maaf Bagimu sampai Widuri itu.

Kultur bernyanyiKultur bernyanyi terus hidup pada keluarga Maluku yang hidup jauh dari kampung halaman. Bernyanyi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Dengar cerita Harvey Malaihollo tentang sang opa Bram Titaley yang pernah dikenal sebagai "buaya" keroncong."Setiap hari sambil duduk-duduk, Opa bernyanyi sambil main ukulele," kenang Har! vey akan Bram.

"Sore-sore sambil minum kopi, kami nyanyi-nyanyi bareng-bareng. Kadang malah pakai mikrofon dan speaker," tutur Harvey yang mulai dikenal ketika memenangi Bintang Radio dan Televisi pada tahun 1976.Ibu Harvey pernah bergabung dengan empat saudara perempuan lainnya membentuk Titaley Sisters. Mereka sempat muncul di TVRI.Lihat pula kultur bernyanyi pada keluarga Tetelepta. Keluarga ini mempunyai nona-nona Salomina, Agustina, Yuliaty, Estherlina. Mereka pada pertengahan era 1970-an membentuk Lex's Trio."Begitu bangun tidur, orangtua kami sudah bersenandung," tutur Estherlina (50) atau Lien.

"Di rumah, dalam suasana s! uka atau duka, kalau kami kumpul pasti nyanyi," kata Lien yang berposisi pada suara tiga dalam Lex's Trio.Pentas musik popKultur bernyanyi keluarga Maluku kemudian melebar ke lingkup yang lebih luas, yaitu ke belantika musik Tanah Air. Pada setiap dekade selalu muncul seniman berdarah Maluku. Hajatan musik Java Jazz Festival 2006 sampai membuat program khusus Moluccan Night sebagai catatan akan kontribusi seniman berdarah Maluku pada musik Tanah Air.

Acara diisi dengan penghormatan untuk John Pattirane. Ia adalah penulis lagu yang diam-diam telah mengajari anak negeri ini bernyanyi lewat lagu ciptaannya, seperti Tanase, Buka Pintu, Huhate, Ayo Mama, Waktu Hujan Sore-sore, Lembe-lembe, Sudah Berlayar, sampai Goro-gorone.

Ada pula Tribute to Chris Kayhatu. Chris pada era 1980-an meramaikan belantika musik Tanah Air era awal 1980-an lewat kelompok Funk Section yang sedang dilanda gaya pop jazz. Chris yang meninggal pada tahun 1991 dalam usia 34 tahun itu memopulerkan lagu berbahasa Ambon, yaitu Rame-Rame dan Enggo Lari.

Seniman Maluku dari masa ke masa terus menyumbangkan bakat untuk musik di Tanah Air. Di era 1930-an, Bram Titaley merajai kontes nyanyi di Pasar Gambir, Batavia. Era 1970-an Bram dikenal sebagai penyanyi dalam kelompok Hawaiian Seniors yang sering muncul di TVRI.Era 1960-an Enteng Tanamal dikenal sebagai gitaris andal yang pernah tergabung dalam band Panca Nada. Era tersebut juga memunculkan Pattie Bersaudara yang terdiri dari Silvy dan Nina. Selain dikenal lewat lagu Paradiso atau ! Cinta Pertama, Pattie juga populer lewat lagu berbahasa Ambon seperti Huhate dan Ouw Ulate.

Untuk bernyanyi dalam bahasa Ambon, Silvy dan Nina yang lahir di Yogyakarta itu harus belajar keras lafal bahasa Ambon. "Kalau salah ucap bisa dimarahin orang Ambon hi-hi...," kenang Silvy.Era awal 1970-an muncul Broery Marantika lewat lagu Angin Malam ciptaan A Riyanto. Pria kelahiran Ambon, 25 Juni 1948, itu dua kali berturut-turut pada tahun 1973 dan 1974 menjadi juara Festival Lagu Populer Tingkat Nasional (FLPN). Suara Broery terus menghiasi belantika musik hingga akhir hayatnya pada 7 April 2000 dalam usia 52 tahun.

Era 1970-an juga dimeriahkan oleh Melky Goeslaw, lelaki asal kampung Buli, Ternate, yang ketika kelas empat Sekolah Rakyat pernah nyanyi di depan Bung Karno yang berkunjung ke Ternate pada tahun 1956. ! Ia merantau ke Jakarta pada tahun 1959. Pada tahun 1975 Melky memenangi kontes nyanyi FLPN dengan lagu Pergi Untuk Kembali ciptaan Minggus Tahitu.Minggus Tahitu adalah nyong Ambon produktif menulis lagu sejak zaman Pattie Bersaudara. Belakangan Pergi Untuk Kembali populer kembali lewat suara Ello, anak Minggus.

Muncul pula Ade Manuhutu pelantun Nona Anna itu, Lex's Trio, Grace Simon, Franky Sahilatua, kelompok vokal Andarinyo, Masnait, sampai Pahama, trio yang memopulerkan lagu Kidung.Dekade 1980 muncul nama Utha Likumahuwa adik kandung Benny Likumahuwa, Chris Kayhatu, Hendry Manuputti, Ruth Sahanaya, dan Jopie Latul. Era 1990-an muncul Andre Hehanusa. Pada era 2000 muncul trio Mollucas, Glen Fredly, serta Ello.Glen Fredly (30) saat ini sedang menjadi bintang di pentas pop. Glen mengaku terinspirasi oleh seniornya seperti Jopie Latul dan Broery Marantika. Ketika kelas satu SMA, Glen yang menjadi anggota paduan suara pernah berjumpa dengan Broery. Glen mengaku merasa seperti disapa "dewa".

"Seluruh orang Ambon pengen nyanyi kayak Broery. Kalau dia turun ke Ambon, ah, udah kayak dewa!" seloroh Glen.Pentas jazz juga dimeriahkan Benny Likumahuwa, Oele dan Jackie Pattiselanno, Jeffrey Tahalele, Karim dan Awat Suweleih, Yance Manusama, Margie Segers, juga Didi Pattirane adik John Pattirane yang pernah menjadi gitaris pada orkestra pengiring Frank Sinatra.Terus bernyanyiDi luar batas-batas geografis Indonesia, seniman berdarah Maluku juga bermusik. Tersebutlah antara lain Daniel Sahuleka, lelaki kelahiran Semarang yang kini bermukim di Belanda. Di Java Jazz, konser Daniel dipadati pengunjung yang serentak melantunkan lagu Don't Sleep Away The Night dan You Make My World So Colorful.

Java Jazz juga menampilkan Massada, kelompok musik dari Belanda yang diawaki keturunan Maluku, yaitu Jopie Manuhutu, Johnny Manuhutu, Alvin Manuhuwa, dan Nipi Noya. Mereka menggunakan alat musik Maluku seperti tifa dan tumbu."Akar Maluku kami sudah ada dalam darah. Kami sudah main di seluruh dunia, kenapa nggak main di rumah sendiri. Rasanya, kami seperti pulang kembali," kata John Manuhutu dalam bahasa Indonesia.

Naluri bernyanyi terus hidup di tengah kon! disi Tanah Air yang, mungkin, tak segemah ripah dulu. Mereka seperti mengajak negeri ini bernyanyi dalam suka dan duka. "Dunia ini rasanya damai kalau kita bernyanyi," kata Lien Tetelepta. Amin. [sumber:kompas]

0 comments:

About This Blog

About This Blog

Search YouTube

Loading...

  © Free Blogger Templates Spain by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP